Perhiasan Tradisional Masa Kerajaan Majapahit
Dari penggalian arkeologi di situs Trowulan kota pra islam terbesar di
indonesia (Miksic 1990; 46) dan berdasar berbagai temuan emas tersebut
menunjukkan bahwa tehnik perwujudan perhiasan mencapai puncaknya karena
berbagai tehnik pembuatan seni perhiasan emas telah di kenal baik (Kartodirjo
Dkk 1993; 254). Dengan kata lain kerajaan majapahit memang di kenal sebagai
kerajaan besar dan berbagai jenis tinggalan arkeologisnya yang telah di temukan
menunjukan corak kebudayaan yang bermutu tinggi. namun ternyata tinggalan
perhiasan dari masa Majapahit tidak sebanyak yang di harapkan.
Sebenarnya dari situs Trowulan banyak di temukan perhiasan emas, tetapi banyak
juga yang tidak sampai ke museum karena setidaknya tahun 50an sd 60an banyak
orang mencari emas di situs ini yang diam-diam meraka jual. dan sekarang lahan
di Trowulan di jadikan bahan pembuatan batu bata.
Padahal dari temuan tinggalan perhiasan emas dari masa lampau dpt di jadikan
bahan kajian ilmiah untuk menghadapi kemungkinan sebagai rujukan perkembangan
seni rupa masa mendatang (Wiyosoyudoseputro 2005;26). Anehnya, penelitian
tentang emas jawa kuno telah di abaikan di bandingkan artefak yang terbuat dari
batu dan perunggu (Miksic 1990; 23).
Pembuatan perhiasan Majapahit mayoritas menggunakan bahan emas, salah satu
penyebabnya karena memiliki pulau-pulau yang kaya akan sumber daya alam
tersebut. Pada masa pengaruh kebudayaan india di indonesia atau disebut masa
hindu budha di indonesia khususnya di jawa (dari abad 5-15 M) memang belum di
temukansitus penambangan bijih, namun pada masa itu masarakat jawa telah
memanfaatkan benda benda logam dalam kehidupan mereka (Timbul Haryono 2002; 6).
Pada abad 15 Van Gog terheran heran menyaksikan bagaimana emas di jawa masih
lebih murah daripada perak, dan hanya bisa memperkirakan penyebabnya adalah
pada penjarahan kuburan pra islam dengan begitu banyak emas yang di tanam, sehingga
ia mempunyai kesimpulan bahwa emas sebelumnya pasti pernah di tambang atau di
impor dalam jumlah besar-besaran. Perak tidak begitu banyak terdapat di asia
tenggara, secara keseluruhan asia tenggara relatif kaya dengan emas dan miskin
dalam perak (Anthony Reid 2001; 112).
Kedudukan emas dan perak sebagai pehiasan penentu status serta inventasi
memastikan bahwa dimana saja ada kekayaan di situ pasti ada tukang emas
(Anthony Reid 2001; 113)
Ramainya perniagaan laut dan sungai mendorong adanya keahlian produksi hampir
semua jenis barang keramik dan logam. Desa-desa yang sepenuhnya hanya
mengerjakan pot dan pecah belah dari tanah, pengambilan kapur atau peleburan
logam bisa saja di tempatkan dekat dengan sumber bahan mentahnya yang
terpenting. Akan tetapi kota-kota besar dengan perniagalah yang menarik,
menjadi pusat kerajinan, di sini berdiam para konsumen terkaya dari
kerajinan-kerajinan istimewa, termasuk istana raja-raja. Juga menjadi tempat
bertemunya jalur-jalur pedagangan lokal maupun internasional, jalur bagi hasil
keahlian lokal dapat di angkut dan saling di pertukarkan. Sebab itu wajar saja
jika berbagai tempat perajin ahli bermunculan di pinggir kota besar. Di
ibukota-ibukota kerajaan tempat berpusatnya manufaktur, istana itu sendiri
merupakan pusat permintaan yang besar. (Anthony Reid 2011; 114-117).
Seni Perhiasan pada Masa Kerajaan Majapahit
Sebelum berbicara lebih jauh tentang seni perhiasan kerajaan Majapahit, ada hal
yang perlu di ketahui di sini bahwa bangsa Indonesia telah mempunyai kemampuan
mengolah berbagai benda kebutuhan menggunakan bahan material logam sebelum
adanya pengaruh budaya dari luar.
Secara hipotesis Dr JLA Brandes pernah menyatakan bahwa jauh sebelum
mendapatkan pengaruh dari kebudayaan India, bangsa indonesia memiliki pengetahuan
dan kemampuan dalam bidang metalurgi. Pengetahuan metalurgi merupakan salah
satu dari 10 unsur kebudayaan yang telah di miliki bangsa Indonesia yaitu
wayang, gamelan. ilmu irama puisi, membatik, mengerjakan logam, sistem mata
uang, ilmu pelayaran, astronomi, penanaman padi, dan birokrasi pemerintahan.
(Timbul Haryono 2008;60).
Baru pada abad awal dari zaman kita sebuah proses baru di kepulauan indonesia
di mulai yaitu asimilasi serta adaptasi dari kebudayaan India. banyak teori
cara pengaruh India masuk ke Indonesia. Dugaan paling tua adalah dugaan tentang
kolonialisasi orang India dengan para pemimpin lokal. Juga di perkirakan bahwa
penyebaran keagamaan India serta ketrampilan teknik mungkin disebarkan dari
pedagang India. Setelah itu tekanan di berikan kepada peranan para pendeta
India dalam memperkenalkan agama India di kepulauan Indonesia.
Tidak di ragukan lagi penyebaran kebudayaan india diperkuat oleh perdagangan
yang lebih awal, yang melibatkan pertukaran barang, budaya dan juga material.
Cerita kehidupan keagamaan di india, kebesaran dari raja serta istananya dan
juga contoh seni keagamaan India. Sebaliknya berita tentang pengusaha,
rempah-rempah, emas perak dan padinya dapat di peroleh di India sana. dan
tentang sifat-sifat penduduk lokal di desa mereka, pertanian mereka yang telah
berkembang baik, ketrampilan mereka dalam mengerjakan kayu, logam dan batu
serta keindahan tenun mereka. Pertukaran budaya dan material pada masa itu
dilakukan dengan cara berlayar. orang-orang indonesia pergi untuk menyaksikan
sendiri keajaiban yang menakjubkan serta untuk memperoleh ketrampilan baru.
Orang-orang India yg berlayar ke indonesia di perkirakan adalah brahmana yang
mengharapkan bisa mendapatkan lapangan baru yang menguntungkan bagi aktivitas
keagamaan dan bagi diri mereka sendiri (Holt 2000; 31-32)
Migrasi dewa-dewa India ke pulau-pulau Indonesia datang lewat jalan damai dari
dua sistem keagamaan yaitu brahmanisme terutama aspek shivait (walaupun secara
sporadis melewati waktu seribu tahun berikutnya degan nyata menjadi penyembahan
kepada vishnu), dan budhisme yang setelah penampilan pertama dari aliran
hinayana, dengan kuat di bumbui oleh elemen-elemen tantris. Pada suatu waktu
kedua sistem keagamaan ini menerime ciri-ciri dari indonesia hingga tumpang
tindih dan bahkan terpadu ke dalam pemujaan-pemujaan sinkertisme Indonesia
hindu-budha.
Dengan demikian apabila sedang membicarakan hinduisasi indonesia atau masa
hinduistiknya seseorang akan memasukkan penyerapan dan adaptasi brahmanisme,
budhisme dan keduanya (Holt 2000; 32-33).
Demikian pula dengan perkembangan seni pada saat itu, seni rupa indonesia hindu
bukanlah semata-mata produk dari pendalaman pikiran atsu persepsi dari teori
dan kaidah seni atau ikonografi dari tradisi seni rupa india, akan tetapi ia
adalah hasil dari pengolahan dan intepretasi para seniman indonesia, hasil dari
peleburan dua tradisi seni rupa indonesia India melalui penghayatan sesuai
dengan tuntutan budaya hindu di indonesia dari abad 7 sd 15 (Buku Katalog Pameran
Kebudayaan di Amerika Serikat September 1990 maret 1992; 31-54).
Sehingga kedatangan agama hindu dan budha di indonesia bukannya melenyapkan
kebudayaan nenek moyang yang sudah ada melainkan lebih memperkaya kebudayaan
indonesia khususnya di jawa dan menjadi lebih terkenal dengan kerajaan
Majapahit.. Kontak dan sintesa dengan kebudayaan lain mencetuskan kebudayaan
dan kesenian yang harmonis, dinamik dan unik sesuai dengan jiwa masyarakat yang
mula-mula bertujuan kepada pemujaan terhadap nenek moyang dan religi yang
kemudian menjadi kreasi berupa ornamen-ornamen yang di goreskan pada dinding
dinding candi. Hiasan di candi di antaranya adalah arca, hiasan-hiasan
struktural seperti pada pelipit-pelipit serta relief2.
Pada masa tersebut bentuk ragam hias yang sebelumnya sudah ada yaitu
bentuk-bentuk geometris tetap dipakai sebagai hiasan pada benda-benda hasil
budaya. Dan di padukan bentuk-bentuk non geometris, selanjutnya muncul ragam
hias berupa penggambaran manusia, dunia tumbuh-tumbuhan, dan dunia binatang di
gubah sedemikian rupa sehingga terwujud suatu bentuk tertentu.
Bentuk alam yang asli di stiril seniman, maupun berdasar ragam yang bersifat
turun temurun. Rupanya pengaruh hindu memberikan perkembangan dengan motif
hiasan (ragam hias) dan seni relief (Lestari 2010;11).
Berbagai teori dan kaidah seni rupa yang berasal dari India dengan tuntunan
agama hindu dan budha telah menjiwai para seniman seni rupa Indonesia, sehingga
kegiatan dalam seni adalah untuk menjamin keberlangsungan hidup beragama berdasarkan
tata kehidupan masyarakat agraris Indonesia yang menempatkan raja dan
keluarganya sebagai penguasa tertinggi sederajat dengan dewa
(Wiyosoyudhoseputro 1990-1992;35).
Ketrampilan perajin jawa timur telah mencapai tingkat yang lebih tinggi di bandingkan
dengan awal klasik. Desain yang rumit menggunakan tehnik chasing, granulation
dan filigri. Gaya telah berubah sepenuhnya dari orang klasik awal ke klasik
akhir. Klasik akhir lebih di sukai dengan ornamen yang sangat padat meliputi
seluruh permukaan benda (Miksic 1990;109).
Museum nasional jakarta memiliki berbagai macam perhiasan berasal dari masa
kerajaan majapahit, beberapa koleksi perhiasan tersebut memiliki relief unik
antara lain menggambarkan dewa surya menaiki kuda di kelilingi lingkaran yang
mengeluarkan sinar dalam bentuk segitiga runcing ujungnya (sinar majapahit) dan
perhiasan yang menggambarkan salah satu adegan dalam cerita ramayana, yaitu dua
ekor kera berjalan di air dengan junjungan batu karang di atas kepalanya.
Desain kala dan makara umumnya di terapkan pada candi jawa periode klasik awal
namun tidak di gunakan untuk perhiasan pribadi. Tetapi selama klasik akhir
desain tersebut sering di gunakan, misalnya sebagai hiasan untuk gelang dan
untuk hiasan telinga (Miksic 1990;112).
Contoh salah satu desain kala pada perhiasan dapat di lihat di Museum Nasional,
terlihat kepala raksasa dengan mulut terbuka yang di dalamnya terdapat sebuah
batu berwarna hijau (Endang Sri Hartati 2006; 128). Perhiasan pada masa lalu
tidak hanya di gunakan untuk menghias badan maupun pakaian, tetapi juga
mempunyai fungsi lain, diantaranya sebagai sarana upacara keagamaan. Sebagai
contoh di temukannya cincin di samping benda-benda lain seperti gulungan emas
atau perak yang bertuliskan mantra, batu akik, biji2an dan di dalam peripih
(wadah benda-benda persajian) yang di tanam di dalam candi.
Penggunaan perhiasan sebagai sarana upacara juga kita ketahui dari
prasasti-prasasti Jawa kuno, yang menyebutkan rangkaian upacara penetapan sima
(desa perdikan). Dalam upacara tersebut ada pemberian hadiah (pasek-pasek)
kepada para pejabat antara lain berupa kain (widihan), cincin, serta uang emas
dan perak. Dalam Kitab Sumanasantaka (sekitar abad 12) menyebutkan hadiah yang
di berikan itu (misalkan gelang, kalung, cincin) di peruntukkan bagi mereka
yang menguasai tingkat kepandaian dalam bidang seni musik, tari dan sastra.
Giwang

Melihat penggunaan perhiasan yang cukup luas di dukung ketersediaan sumber emas
di kepulauan nusantara yang sangat banyak, maka dapat di mengerti bahwa
pembuatan dan pemakaian perhiasan pada masyarakat pada masa indonesia kuno
sangat banyak. Tinggalan arkeologi yang berupa perhiasan berasal dari seluruh
periode kebudayaan, sejak masa pra sejarah sampai masa mautakhir.
Dari masa pra sejarah misalnya di temukan topeng emas di situs gilimanuk. Pada
umumnya perhiasan dari masa pra sejarah di temukan dalam situs kubur dan
merupakan perlengkapan penguburan yang di kenakan pada si mati. dari periode
klasik indonesia baik masa jawa tengah abad 8-10 maupun jawa timur abad 10-15
jenis perhiasan lebih bervariasi corak maupun bentuknya (Endang Sri Hardiati
2006; 124-125).
Kalung


Jika kita perhatikan jenis perhiasan pada
arca batu dan perunggu tidak seluruhnya dari logam, seperti ikat pinggang dan
ikat pinggul yang terbuat dari kulit atau kain tebal tetapi di lengkapi gesper
emas (jawa timang) yang kadang kadang di hiasi batu mulia. Selain itu ada
hiasan uncal, yaitu semacam sabuk kecil yang tergantung di depan kedua paha
mulai dari ikat pinggang menggantung ke bawah, dan pada bagian ujungnya di
hiasi jumbal dari logam. Pada arca-arca dari masa majapahit hiasan uncal
panjangnya sampai betis, hampir hingga ke mata kaki. Sedangkan pada arca masa
jawa tengah dan jawa timur awal panjangya hanya sampai ke lutut atau sedikit di
bawah lutut (Rangkuti, Dkk 2006 ; 124-125).
Perhiasan majapahit kebanyakan berupa mahkota, jamang, tusuk konde, hiasan
telinga, bandul, selempang dada, gelang lengan (kelat bahu), gelang tangan,
cincin dan jempang (penutup kelamin anak perempuan).
Tali Pinggang

Tehnik pengerjaan perhiasan meliputi tehnik pembentukan, teknik pembuatan
hiasan dan teknik penyelesaian. Teknik pembentukan dasar dilakukan menggunakan
teknik cetak dan teknik tempa, teknik cetak yang di gunakan ada dua macam yaitu
cetak langsung dan cetak acire perdue. Teknik cetak langsung yaitu teknik
mencetak dengan cara menuangkan logam cair langsung ke dalam cetakan.
Adapun cetak acire perdue terlebih dahulu membuat model positif sesuai dengan
bentuk yang akan di bua. Model tersebut di buat dari bahan lilin yang kemudian
dibalut dengan tanah liat. Model ini kemudian di bakar hingga lilin itu meleleh
keluar dan terbentuklah cetakan negatif. Oleh karena itu teknik ini sering di
sebut dengan istilah Lost Wax Casting. Selanjutnya di teruskan dengan proses
penuangan logam cair kedlm rongga cetakan tersebut.
Gelang




Untuk tehnik pembuatan selanjutnya adalah tehnik tempa, untuk menghasilkan
bentuk bentuk wadah di lakukan dengan penempaan dari sisi dalam di atas
permukaan landasan yang cekung atau dari sisi luar pada landasan yang cembung
(Haryono 2008; 176-177)
Teknik pembuatan hiasan di lakukan dengan berbagai macam yaitu penempelan
soldering pemukulan halus dari sisi dalam untuk mendapatkan bentuk relief,
penempelan butiran-butiran granulation, pembuatan goresan menggunakan alat
grafir, dan tehnik pengukiran chasing dan embosing. Penyambungan menggunakan
tehnik welding sesuai dengan sisi logam yang di ukir, untuk menghasilkan
berbagai jenis pahatan pada ornamen yang di buat di gunakan alat alat pahat
dari sisi belakang (pemudul) dan alat pemahat dari sisi depan (pengracap).
Masing2 ujung mempunyai bentukyang beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan.
Tahap akhir dari pengerjaan adalah penghalusan (Haryono 3008; 177).
Cincin






Berdasarkan temuan beberapa artefak majapahit yang di paparkan oleh John miksic
dalam old javanese gold, ada satu tehnik lagi yang di gunakan untuk membuat
perhiasan pada masa majapahit, yang sering di sebut dengan Teknik Filigri.
Filigri adalah kata yang berasal dari bahasa latin `filum` dan 1granum` yang
artinya `benang` dan `biji`. Filigri adalah seni atau tehnik untuk membuat
perhiasan ataupun produk seniyang terbuat dari logam emas, perak, atau tembaga.
yaitu menggunakan benang logam atau kawat halus yang di pelintir, di anyam, di
bentuk, dan di satukan dengan patri sehingga menjadi sebuah bentuk tertentu.
Sebuah produk filigri adalah produk yang di hasilkan dari kombinasi berbagai
potong bidang bentuk yang di satukan. setelah masing2 bidang tsb diisi dengan
benang logam yang menggunakan motif2 tertentu.Produk filigri bisa di
aplikasikan pada pembuatan perhiasan, manik2, dan benda seni (Sagita
2008;2021).
Membuat bentuk benang atau kawat (isen-isen), di awali dengan memanasi potongan
logam kemudian di pukul berulang ulang untuk mendapatkan bentuk sebuah batangan
emas pipih. Selanjutnya salah satu ujungnya di masukkan ke dalam papan besi
berlubang (pengurutan) sesuai dengan diameter yang di inginkan dan di tarik
sehingga seluruh batangan emas di paksa keluar melalui lubang tersebut. Kawat
emas yang di hasilkan dalam pemanfaatannya antara lain berupa benang emas
tunggal, benang emas yang di jalin dan benang emas rajutan (Timbul Haryono
2008; 178).
Khusus perhiasan yang di lengkapi batu
permata ada berbagai tehnik yang di gunakan para perajin tradisional untuk
memasang batu permata tersebut seperti berikut:
1.
Teknik ikat pendem, yaitu memasang batu permata pada cekungan sebagai
penjepitnya.
2.
Teknik bandhilan, yaitu memasang batu mulia pada kaki-kaki yang
terbuat dari kait-kait tipis secara terpisah dari cincin, kemudian batu permata
tsb di masukkan pada lubangnya dan masing-masing bagian di patri pada
cincin.
3.
Teknik tumpang, yaitu meninggikan logam penahan di sekeliling batu
dengan cara melubang lubangi sehingga bisa menahan batu mulianya.
4.
Tehnik cakaran, yaitu membuat semacam cakar terpisah dari cincin dan
memasukkan batu di antara cakar yang telah di buat kemudian mematrinya pada
cincin.
Profesi sebagai seniman perhiasan (pande mas) merupakan sebuah pekerjaan yang
istimewa dan mendapat tempat yang di hormati, dalam kitab tantu panggelaran di
sebutkan bahwa dalam rangka membuat dasar-dasar kebenaran di pulau jawa antara
lain; hyang mahadewa turun ke bumi menjadi seorang pande emas dan mengajarkan
kepada manusia membuat barang barang perhiasan (Timbul Haryono 2008; 173)
Dan setelah di perhatikan ada hal-hal yang berbau magis dalam pembuatan
beberapa jenis perhiasan pada jaman majapahit setelah di perhatikan dengan
sungguh-sungguh ternyata ada sebagian perhiasan yang di buat tanpa ada patri,
tanpa cetak, dan tanpa tehnik yang di sebutkan di atas, karena diketahui ada
sebagian perhiasan yang pembuatannya seperti menggunakan kekuatan magis dengan
cara bahan logam seperti di pencet dengan tangan (pijet) yang konon menurut
cerita sama dengan para empu dalam membuat keris pada jaman dahulu.
Dan di ketahui bahwa campuran logam emas yang di buat pada jaman dahulu terdiri
dari 5 macam logam yaitu emas, perak, tembaga, kuningan dan perunggu. dan
campuran bahan logam ini sangat sulit di bentuk karena komposisi logam tersebut
sangat sulit di bentuk karena dengan cara sistem tempa ternyata tidak akan
bisa, kalau di tempa selalu mendapati bahan logam tersebut selalu retak dan
pecah. Hal ini sudah penulis buktikan setelah mendapatkan barang perhiasan yg
di perkirakan masa Majapahit yang kondisinya sudah rusak, barang tersebut
langsung di lebur dan di tukang emas jaman modern ini dengan maksud untuk di
buatkan perhiasan yang baru, ternyata tukang emas jaman sekarang tidak sanggup
untuk membuatnya di karenakan kalau di tempa selalu retak dan pecah.